perpoloncoan Kampus

Pembangunnan kesadaran intelektual sebagai bukti penumpasan perilakua perpoloncoan kampus

Suarahijau.com– Mahasiswa Baru atau yang kerapkali disebut sebagai Maba, dimana nama tersebut didapatkan seseorang yang baru pertama kali menjadi seorang mahasiswa, dibalik nama Maba juga terselip identitas yakni junior yakni mahasiswa yang memiliki senior.

Akhir-akhir ini berbagai kegiatan mahasiswa baru banyak dilakukan di berbagai kampus diseluruh Indonesia, seperti penyambutan mahasiswa baru yang kemudian dibuatkanlah sebuah kegiatan yang berdalih penyambutan dengan nama Ospek (Orientasi studi dan Pengenalan Kampus).

Yah, kerap kali momok Ospek ini sebagai ketakutan awal dari seorang Maba dimana berbagai praktek perpoloncoan yang dilakukan oleh oknum senior terhadap Maba sering terjadi bahkan sampai merenggut nyawa seorang Maba yang tujuan awalnya untuk menuntut ilmu.

Contoh kasusnya saja tentang penyambutan Maba yang terjadi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) lalu pada hari Selasa (9/8), dimana para Maba tersebut kemudian dijemur dibawah terik matahari hingga banyak Maba yang berjatuhan karena kehausan dan kepanasan.

Baca Juga :

Kepala Biro Suarahijau.com Dan Biro Penyiaran HIMIKOM UMI, Siap peradakan podcast demi dongkrak skil Penyiaran Jurnalistik kader

Rektor Untirta pun angkat bicara perihal tersebut bahwa pihaknya mendukung PKKMB Resmi tersebut.

“Ini merupakan pelajaran berharga (mahasiswa baru dijemur saat technical meeting ospek). Kami akan terus belajar mempersiapkan Tirtayasa Muda yang berkarakter unggul dan berdaya saing dan menjadi bahan evaluasi ke depan untuk tidak lagi terulang,” ucap dia, dilansir dari laman Untirta, Kamis (11/8/2022).

Lantas, bagaimana nasib dari mahasiswa yang tidak memiliki pisik kuat untuk tetap bertahan mengikuti agenda tersebut.

Tentu dari pihak panitia Ospek musti memperhatikan aspek keselamatan dari para peserta karena salah perhitungan sedikit saja dapat membuat mental bahkan pisik seorang Maba menjadi drop bahkan dilarikan Kerumah sakit karena kelelahan.

Kemudian lanjut kita juga kerap kali melihat adegan-adegan oknum senior yang meneriaki seorang Maba untuk tunduk dan patuh dengan dalih uji mental lah dan lain sebagainya.

Tapi, apakah hal tersebut efektif dalam bentuk mental.

Dilansir dari detik.com, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dra Ratna Djuwita, Dipl. Psych, mengatakan ospek yang menerapkan kekerasan verbal tidak bisa membantu membentuk disiplin maba. Budaya ospek seperti ini malah bisa menimbulkan perpecahan dan menjadi siklus karena ada rasa dendam.

“Nanti mereka (maba -red) ketika status sosialnya naik, jadi kakak tingkat, membalas itu karena diperlakukan seperti itu dengan rasionalisasi akan membuat tegar, kreatif, kompak,” kata Ratna

Lantas bagaimana seharusnya Maba menyikapi hal tersebut jika mereka mendapatkan perlakuan tersebut dari oknum senior seperti melakukan praktik perpoloncoan.

Salasatu hal yang perlu dilakukan oleh seorang mahasiswa baru dan seluruh mahasiswa iyalah harus kembali menyadari peran mahasiswa itu sendiri yakni moral force dan Agent of change.

Terlebih lagi yakni pembangunan nilai intelektual pada diri seorang mahasiswa, maka budaya perpoloncoan dikalangan mahasiswa akan meredup dengan sendirinya karena jika kesadaran tersebut terbangun makan tentu seorang mahasiswa tidak ada celah untuk melahirkan bibit kedendaman dan oknum-oknum senior yang kian merebak.

Hal kecil yang bisa juga dilakukan yakni perbanyak melakukan literasi keilmuan dan membangun suatu kelompok belajar serta diskusi perihal isu atau hal yang berbau akademis maka hal tersebut dapat mendongkrak serta memutuskan rantai perpoloncoan dan memperpanjang barisan intelektual dikalangan mahasiswa.

Hal ini mungkin sulit untuk dilakukan bagi mereka yang masih terkungkung dalam merawat budaya tersebut dengan berbagai alasan, akan tetapi melihat berbagai kegiatan didalam kampus yang menerapkan pembangunan nilai intelektual seperti, diskusi trotoar yang sering kali membahas isu, kemudian ada juga diskusi buku dipelataran fakultas dan masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan untuk membentuk kembali kesedaran intelektual dikalangan Mahasiswa.

Penulis : Muh Nur Alqadri

Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.