Global Climate Strike 2022: G20 Solusi Palsu Krisis Iklim

Suarahijau.com-Makassar, Sejumlah elemen masyarakat dan organisasi yang berada di Kota Daeng (Makassar) ikut serta mengadakan aksi damai tanpa kekerasan dalam gerakan serentak Global Climate Strike yang diadakan di seluruh dunia pada Jumat, 23 September 2022.

Seperti yang kita ketahui, Global Climate Strike ini merupakan gerakan iklim serentak yang terselenggara di seluruh dunia, gerakan ini bertujuan untuk mengkampanyekan situasi darurat iklim ke masyarakat dan mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk serius menangani krisis iklim.

Dokumentasi
Dokumentasi: Asyidik/suasana aksi iklim. Jumat (23 September 2022)

Dalam aksi damai tanpa kekerasan ini massa aksi menuntut untuk penolakan G20, sebab G20 merupakan solusi palsu untuk mengatasi krisis iklim.

Group of 20 (G20) memiliki anggota sebanyak 20 pemerintahan yang mewakili 65% populasi bumi, 79% perdagangan dunia dan 85% ekonomi (PDB) dunia. Di sisi lain, G20 merupakan kumpulan negara-negara yang membuat krisis iklim semakin parah, karena Negara G20 berkontribusi terhadap 75% emisi global. Dari 11 negara penghasil batu bara terbesar dunia, 10 di antaranya adalah negara G20. NEGARA-NEGARA G20 TIDAK SERIUS DALAM KOMITMEN IKLIMNVA

Dari yang awalnya berfokus pada kemajuan ekonomi semata, G20 berkembang menjadi ruang untuk membentuk kerja sama mengatasi krisis iklim, khususnya antara negara maju dan berkembang.

Baca Juga:

HIMIKOM UMI Sukses Gelar Coding di Dusun Cindakko

Dokumentasi Kegiatan Coding Himikom UMI Di Dusun Cindakko

G20 telah menyepakati beberapa komitmen sebagai upaya menyelaraskan agenda iklim G20 dengan negosiasi iklim UNFCCC seperti: Protokol Kyoto, Traktat Kopenhagen, Kesepakatan Paris dan fakta iklim Glasgow. Sayangnya, tidak ada konsistensi yang pasti akan keseriusan suatu forum G20 berupaya mengatasi krisis iklim.” Ucap Yudi salah satu massa aksi iklim saat dihubungi melalui whatsaap.

Perubahan iklim telah menjadi masalah global yang tentunya perlu perhatian lebih dari pemangku kebijakan, sebab dampak dari perubahan iklim ini sangat luas pada masyarakat.

“Berdasarkan track record, keseriusan G20 ini bergantung pada seberapa penting negara pemegang presidensi memandang isu krisis iklim. Saat ini, tidak ada anggota G20 yang memiliki kebijakan yang memadai dalam upaya membatasi kenaikan pemanasan global hingga 1,5°C” Sambungnya.

“Kami menolak forum G20 yang telah menciptakan ancaman serius bagi kelestarian ekologi dan memperparah krisis iklim serta mengancam masa depan generasi saat ini dan yang akan datang.” Tutup Yudi.

Penulis: Muh Syahrul (24/09)

Comments (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.